Jumat, 12 September 2008
Kamis, 11 September 2008
Senin, 08 September 2008
Sabtu, 06 September 2008
Partai Pelopor memakai suara terbanyak
Partai Pelopor Mengakomodir Caleg Terpilih dari Suara Terbanyak
Pada rapat kerja penentuan Caleg untuk tingkat DPRD Tingkat Propinsi, Syaharie Jaang selaku Ketua DPD Partai Pelopor Kalimantan Timur telah menyampaikan bahwa dalam menghadapi Pemilu mendatang akan menggunakan Caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak. Keputusan ini disampaikan setelah mendengarkan aspirasi dari para Wakil Ketua DPD maupun anggota organisasi lainnya di tingkat Pimpinan Daerah Propinsi.
Keputusan ini, memang akan menyebabkan beberapa konsekwensi dalam penerapannya, sebagai contoh apabila suara terbanyak diperoleh dari Caleg nomor terakhir ( buncit ), maka apabila ada terjadi sesuatu hal yang menyebabkan caleg tersebut harus di PAW, maka calon penggantinya akan diambil dari urutan yang mana…?
Hal positif yang muncul adalah para caleg dari Partai Pelopor tidak akan tarik ulur dalam penentuan nomer urut. Dan hal ini merupakan legitimasi bahwa caleg tersebut memang dikenal oleh masyarakat dalam kiprahnya di kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, pembelajaran politik Indonesia melalui hal seperti ini menjadi menarik karena politik uang dalam penentuan daftar Caleg bisa diminimize. Dan Ketua Partai terpilih akan merupakan kandidat yang memang dikenal oleh masyarakat luas, dan akhirnya sepak terjang partai tersebut akan dicerminkan melalui kualitas pengkaderan yang tidak berdasarkan senioritas, kekayaan dan politikus karbitan yang hanya ingin meraih kekuasaan semata.
Lalu. Aturan mainnya bagaimana…?
Masyarkat pemilih di Indonesia, sampai saat ini masih hanya kenal nama partai dibandingkan dengan individu-individunya. Oleh sebab itu, suara terbanyak dari caleg terpilih di urutan terbawah, suara yang masuk untuknya akan dijadikan dasar perolehan kursi dari mulai urutan teratas. Inilah yang menyebabkan pembelajaran politik berdasarkan legitimasi terhadap individu akan menjadi tidak jelas, karena suara yang diperoleh dari caleg terbawah akan dikumulatifkan terhadap suara partai terlebih dahulu.
Sehubungan dengan ini, MK telah memutuskan bahwa pola yang akan diterapkan oleh partai Pelopor ini adalah hal yang diperkenankan secara hukum. Tetapi benarkah aplikasinya pada Pemilu mendatang ini…?
Pada rapat kerja penentuan Caleg untuk tingkat DPRD Tingkat Propinsi, Syaharie Jaang selaku Ketua DPD Partai Pelopor Kalimantan Timur telah menyampaikan bahwa dalam menghadapi Pemilu mendatang akan menggunakan Caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak. Keputusan ini disampaikan setelah mendengarkan aspirasi dari para Wakil Ketua DPD maupun anggota organisasi lainnya di tingkat Pimpinan Daerah Propinsi.
Keputusan ini, memang akan menyebabkan beberapa konsekwensi dalam penerapannya, sebagai contoh apabila suara terbanyak diperoleh dari Caleg nomor terakhir ( buncit ), maka apabila ada terjadi sesuatu hal yang menyebabkan caleg tersebut harus di PAW, maka calon penggantinya akan diambil dari urutan yang mana…?
Hal positif yang muncul adalah para caleg dari Partai Pelopor tidak akan tarik ulur dalam penentuan nomer urut. Dan hal ini merupakan legitimasi bahwa caleg tersebut memang dikenal oleh masyarakat dalam kiprahnya di kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, pembelajaran politik Indonesia melalui hal seperti ini menjadi menarik karena politik uang dalam penentuan daftar Caleg bisa diminimize. Dan Ketua Partai terpilih akan merupakan kandidat yang memang dikenal oleh masyarakat luas, dan akhirnya sepak terjang partai tersebut akan dicerminkan melalui kualitas pengkaderan yang tidak berdasarkan senioritas, kekayaan dan politikus karbitan yang hanya ingin meraih kekuasaan semata.
Lalu. Aturan mainnya bagaimana…?
Masyarkat pemilih di Indonesia, sampai saat ini masih hanya kenal nama partai dibandingkan dengan individu-individunya. Oleh sebab itu, suara terbanyak dari caleg terpilih di urutan terbawah, suara yang masuk untuknya akan dijadikan dasar perolehan kursi dari mulai urutan teratas. Inilah yang menyebabkan pembelajaran politik berdasarkan legitimasi terhadap individu akan menjadi tidak jelas, karena suara yang diperoleh dari caleg terbawah akan dikumulatifkan terhadap suara partai terlebih dahulu.
Sehubungan dengan ini, MK telah memutuskan bahwa pola yang akan diterapkan oleh partai Pelopor ini adalah hal yang diperkenankan secara hukum. Tetapi benarkah aplikasinya pada Pemilu mendatang ini…?
Pertanian Indonesia
“ Pelopor for Change “
Pertanian sebagai Pondasi Kebesaran Bangsa Indonesia
Indonesia dikaruniai oleh Sang Khaliq digaris Khatulistiwa ini dengan dua ( 2 ) musim, yaitu Panas ( Kemarau ) dan Basah ( Hujan ); sungai dan pegunungan sebagai kekayaan alam yang seharusnya dijaga dan dikelola dengan asas keseimbangan. Kalau didalam Al Qur’an mungkin bisa diibaratkan sebagai Surga Dunia karena begitu beragam kekayaan alam yang tersedia atau dihidangkan oleh Allah Swt di bumi ini.
Mari kita lihat dalam kondisi saat ini apakah kita sudah mengelola dan menjaga kekayaan ini dengan baik. Saat Kalimantan Timur diberi karunia oleh Allah berupa hujan, bagian Indonesia lainnya dilanda kekeringan. Hati ini ingin menangis karena melihat saudara-saudara kita terkena Padi gagal panen karena hujan belum turun, saudara-saudara kita mencari air bersih ke arah pegunungan hanya untuk mencari seember air bersih untuk kebutuhan hidupnya.
Pada saat hujan melanda, yang seharusnya menjadi karunia bagi kita malah menjadi prahara karena sawah-sawah jadi gagal panen karena banjir melanda dimana-mana, kota-kota terendam oleh air dan saudara-saudara kita terpaksa mengungsi ke daerah lain meninggalkan rumah mereka masing-masing.
Betapa sebenarnya air yang ada yang seharusnya merupakan karunia, tidak pernah kita syukuri sebagai karunia karena pada saat datang hujan malah menjadikan musibah. Hal inilah yang ingin saya katakan bahwa kita telah salah membuat konsep pembangunan prioritas di negeri ini. Sseandainya kita membagun pondasi pembangunan bangsa ini di sector Agraris / Pertanian maka kita semua pasti terpacu memanfaatkan air sebagai karunia Allah yang begitu besar, sehingga air akan dikelola untuk dimanfaatkan sepanjang tahun untuk sector agraris. Mengapa…?
Karena sector agraris akan mencipatakan kita akan membangun waduk-waduk dengan debit sesuai keinginan kita untuk membangun pertanian di bumi ini sebagai sumber devisa kita dan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Kita akan menjaga kelestarian sumber-sumber air dengan menjaga ekosistem hutan yang ada untuk mengairi sawah – sawah dan ladang kita, kita akan menjaga sungai-sungai kita menjadi tidak dangkal karena sedimentasi yang terjadi karena system pemukiman kita di sepanjang sungai dan kali dibiarkan, hutan-hutan ditebang tanpa memperhatikan aturan main yang ada karena sector pertanian masih belum dilihat sebagai kekayaan bangsa ini.
Untuk membangun sector Pertanian sebagai pondasi bangsa ini, tentunya akan dibutuhkan sumberdaya manusia yang memadai baik dari tingkat Diploma, Sarjana maupun Doctoral. Coba kita simak, pola pikir masyarakat kita. Kita akan selalu akan beranggapan bahwa kalau anak kita masuk Fakultas Pertanian tidak membanggakan dan sebagai hal yang memalukan karena anak kita akan dianggap sebagai pengangguran nantinya setelah lulus dari Perguruan Tinggi. Jurusan Kedokteran, Arsitek dan lainnya dianggap lebih punya gengsi untuk anak-anak kita. Lalu kapan kita akan maju untuk membangun sector Pertanian kalau kita sendiri mempunyai anggapan seperti ini. Kita sendiri sudah malu untuk menjadi PETANI, maka otomatis konsep pembangunan kita akan dipengaruhi oleh paradigma ini.
Kita semua ingat pada tahun 70-an, di sekolah dasar kita diberi pelajaran bahwa orang Madura makanan pokoknya adalah jagung, orang Ambon dan Irian makanan pokoknya sagu , lalu saat ini masih jadi makanan pokok suku ini….? TIDAK.
Semuanya hilang, kita semuanya makan beras sebagai makanan pokok kita. Belum lagi, pada tahun 80-an, setiap kita melewati daerah Tangerang dan Bekasi kita akan disuguhi sawah- sawah dengan padi yang menguning di semua daerah tersebut. Saat ini daerah tersebut telah menjadi sawah-sawah pabrik dan pemukiman. Mengapa…?
Apel dari daerah Malang, saat ini sudah kalah bersaing dengan Apel-apel Impor, mengapa…? Belum lagi kebun-kebun apel di daerah ini sudah berubah menjadi kebun-kebun pemukiman penduduk dan Villa-villa.
Untuk itu, tanpa menjadikan Pertanian sebagai Pondasi Pembangunan Bangsa, bersiaplah kita akan menjadi bangsa yang tidak memiliki apapun untuk membangun negeri ini menjadi besar, beradap dan dihormati.
Mari kita sama-sama bertanya kepada hati kita, sudah bernarkah paradigma para pemimpin bangsa ini untuk membangun Indonesia menjadi negara besar….?
Marilah kita bersatu untuk memajukan sector Pertanian sebagai pondasi pembangunan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dengan mensyukuri karunia sang Khaliq yaitu Allah Swt, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Mari kita pilih pemimpin-pemimpin kita dan calon-calon anggota dewan yang paham betul akan potensi bangsa ini di sector Pertanian, dan jangan pilih pemimpin-pemimpin dan anggota dewan yang hanya mengelabui kita dengan jenggot manis tetapi kelakuannya tidak mencirikan yang sebenarnya selain korupsi dan mengawini artis-artis Indonesia.
“ Pelopor for Change “ itulah yang harus menjadi pandangan kita semua untuk membangun negeri ini bukan hanya untuk saat ini tetapi untuk anak-cucu kita agar mereka kelak mengenal kita sebagai manusia yang mensyukuri nikmat Allah atas segala kekayaan alam yang telah diberikan kepada kita semua.
By : Sandjaja ( Wakil Ketua DPD Partai Pelopor Kaltim )
Pertanian sebagai Pondasi Kebesaran Bangsa Indonesia
Indonesia dikaruniai oleh Sang Khaliq digaris Khatulistiwa ini dengan dua ( 2 ) musim, yaitu Panas ( Kemarau ) dan Basah ( Hujan ); sungai dan pegunungan sebagai kekayaan alam yang seharusnya dijaga dan dikelola dengan asas keseimbangan. Kalau didalam Al Qur’an mungkin bisa diibaratkan sebagai Surga Dunia karena begitu beragam kekayaan alam yang tersedia atau dihidangkan oleh Allah Swt di bumi ini.
Mari kita lihat dalam kondisi saat ini apakah kita sudah mengelola dan menjaga kekayaan ini dengan baik. Saat Kalimantan Timur diberi karunia oleh Allah berupa hujan, bagian Indonesia lainnya dilanda kekeringan. Hati ini ingin menangis karena melihat saudara-saudara kita terkena Padi gagal panen karena hujan belum turun, saudara-saudara kita mencari air bersih ke arah pegunungan hanya untuk mencari seember air bersih untuk kebutuhan hidupnya.
Pada saat hujan melanda, yang seharusnya menjadi karunia bagi kita malah menjadi prahara karena sawah-sawah jadi gagal panen karena banjir melanda dimana-mana, kota-kota terendam oleh air dan saudara-saudara kita terpaksa mengungsi ke daerah lain meninggalkan rumah mereka masing-masing.
Betapa sebenarnya air yang ada yang seharusnya merupakan karunia, tidak pernah kita syukuri sebagai karunia karena pada saat datang hujan malah menjadikan musibah. Hal inilah yang ingin saya katakan bahwa kita telah salah membuat konsep pembangunan prioritas di negeri ini. Sseandainya kita membagun pondasi pembangunan bangsa ini di sector Agraris / Pertanian maka kita semua pasti terpacu memanfaatkan air sebagai karunia Allah yang begitu besar, sehingga air akan dikelola untuk dimanfaatkan sepanjang tahun untuk sector agraris. Mengapa…?
Karena sector agraris akan mencipatakan kita akan membangun waduk-waduk dengan debit sesuai keinginan kita untuk membangun pertanian di bumi ini sebagai sumber devisa kita dan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Kita akan menjaga kelestarian sumber-sumber air dengan menjaga ekosistem hutan yang ada untuk mengairi sawah – sawah dan ladang kita, kita akan menjaga sungai-sungai kita menjadi tidak dangkal karena sedimentasi yang terjadi karena system pemukiman kita di sepanjang sungai dan kali dibiarkan, hutan-hutan ditebang tanpa memperhatikan aturan main yang ada karena sector pertanian masih belum dilihat sebagai kekayaan bangsa ini.
Untuk membangun sector Pertanian sebagai pondasi bangsa ini, tentunya akan dibutuhkan sumberdaya manusia yang memadai baik dari tingkat Diploma, Sarjana maupun Doctoral. Coba kita simak, pola pikir masyarakat kita. Kita akan selalu akan beranggapan bahwa kalau anak kita masuk Fakultas Pertanian tidak membanggakan dan sebagai hal yang memalukan karena anak kita akan dianggap sebagai pengangguran nantinya setelah lulus dari Perguruan Tinggi. Jurusan Kedokteran, Arsitek dan lainnya dianggap lebih punya gengsi untuk anak-anak kita. Lalu kapan kita akan maju untuk membangun sector Pertanian kalau kita sendiri mempunyai anggapan seperti ini. Kita sendiri sudah malu untuk menjadi PETANI, maka otomatis konsep pembangunan kita akan dipengaruhi oleh paradigma ini.
Kita semua ingat pada tahun 70-an, di sekolah dasar kita diberi pelajaran bahwa orang Madura makanan pokoknya adalah jagung, orang Ambon dan Irian makanan pokoknya sagu , lalu saat ini masih jadi makanan pokok suku ini….? TIDAK.
Semuanya hilang, kita semuanya makan beras sebagai makanan pokok kita. Belum lagi, pada tahun 80-an, setiap kita melewati daerah Tangerang dan Bekasi kita akan disuguhi sawah- sawah dengan padi yang menguning di semua daerah tersebut. Saat ini daerah tersebut telah menjadi sawah-sawah pabrik dan pemukiman. Mengapa…?
Apel dari daerah Malang, saat ini sudah kalah bersaing dengan Apel-apel Impor, mengapa…? Belum lagi kebun-kebun apel di daerah ini sudah berubah menjadi kebun-kebun pemukiman penduduk dan Villa-villa.
Untuk itu, tanpa menjadikan Pertanian sebagai Pondasi Pembangunan Bangsa, bersiaplah kita akan menjadi bangsa yang tidak memiliki apapun untuk membangun negeri ini menjadi besar, beradap dan dihormati.
Mari kita sama-sama bertanya kepada hati kita, sudah bernarkah paradigma para pemimpin bangsa ini untuk membangun Indonesia menjadi negara besar….?
Marilah kita bersatu untuk memajukan sector Pertanian sebagai pondasi pembangunan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dengan mensyukuri karunia sang Khaliq yaitu Allah Swt, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Mari kita pilih pemimpin-pemimpin kita dan calon-calon anggota dewan yang paham betul akan potensi bangsa ini di sector Pertanian, dan jangan pilih pemimpin-pemimpin dan anggota dewan yang hanya mengelabui kita dengan jenggot manis tetapi kelakuannya tidak mencirikan yang sebenarnya selain korupsi dan mengawini artis-artis Indonesia.
“ Pelopor for Change “ itulah yang harus menjadi pandangan kita semua untuk membangun negeri ini bukan hanya untuk saat ini tetapi untuk anak-cucu kita agar mereka kelak mengenal kita sebagai manusia yang mensyukuri nikmat Allah atas segala kekayaan alam yang telah diberikan kepada kita semua.
By : Sandjaja ( Wakil Ketua DPD Partai Pelopor Kaltim )
Jumat, 05 September 2008
Rabu, 03 September 2008
Partai Pelopor ingin menjadi " Pelopor for Change "
Dalam Rakerda bulan lalu, Syaharie Jaang telah menyampaikan kepada para peserta Rakerda bahwa sebagai partai Gurem, Pelopor harus tahu diri bahwa untuk meraih perolehan kursi di legislatif, pada saat ini sebaiknya para caleg melakukan karya nyata di lapangan. Janji-janji manis sudah tak diminati lagi sebagai materi kampanye.
Bukti nyata pada pilkada Kaltim, masyarakat Kaltim lebih banyak menjadi Golput, sehingga bila Golput ini diikutkan sebagai keputusan politik, maka pemenanngnya adalah Golput.
Oleh sebab itu, Pelopor tidak harus mencalonkan banyak kadernya di pemilu legislatif mendatang hanya sekedar untuk memenuhi kuota. Pelopor harus berkiprah nyata, oleh sebab itu, caleg-caleg dari Pelopor harus berkarya nyata untuk membangun daerahnya masing-masing.
Kader Pelopor tidak boleh melakukan politik uang atau sejenisnya, tetapi bagaimana mencari amanah dari rakyat. Biarlah partai lain melakukan tindakan yang bukan fair play dan membodohi rakyat. Kita harus maju dengan satu tujuan yaitu " Membangun Kaltim yang Bersih dan bermanfaat buat masyarakat Kaltim pada Khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Saya sebagai salah satu Wakil Ketua di DPD Partai Pelopor sangat menyetujui opini pak ketua ini. Saya sangat berharap sekali pak Syaharie bisa maju pada Pilkada mendatang untuk membuat Samarinda jadi lebih maju dari saat ini. Beliau adalah tokoh pemuda yang tidak disangsikan lagi pandangan Politiknya tentang pentingnya Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia. Dan , beliau sangat paham sekali tentang bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai perjuagan para pendiri Bangsa.
Saya dalam Pemilu mendatang, akan mencoba mengaplikasikan konsep beliau tentang bagaimana menjual ide-ide partai yang bernafaskan " PELOPOR FOR CHANGE "
Semoga niatan ini memperoleh respon yang positif dari Masyarakat Kaltim di Pemilu mendatang.
Merdeka
By Sanjaya ,
Bukti nyata pada pilkada Kaltim, masyarakat Kaltim lebih banyak menjadi Golput, sehingga bila Golput ini diikutkan sebagai keputusan politik, maka pemenanngnya adalah Golput.
Oleh sebab itu, Pelopor tidak harus mencalonkan banyak kadernya di pemilu legislatif mendatang hanya sekedar untuk memenuhi kuota. Pelopor harus berkiprah nyata, oleh sebab itu, caleg-caleg dari Pelopor harus berkarya nyata untuk membangun daerahnya masing-masing.
Kader Pelopor tidak boleh melakukan politik uang atau sejenisnya, tetapi bagaimana mencari amanah dari rakyat. Biarlah partai lain melakukan tindakan yang bukan fair play dan membodohi rakyat. Kita harus maju dengan satu tujuan yaitu " Membangun Kaltim yang Bersih dan bermanfaat buat masyarakat Kaltim pada Khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Saya sebagai salah satu Wakil Ketua di DPD Partai Pelopor sangat menyetujui opini pak ketua ini. Saya sangat berharap sekali pak Syaharie bisa maju pada Pilkada mendatang untuk membuat Samarinda jadi lebih maju dari saat ini. Beliau adalah tokoh pemuda yang tidak disangsikan lagi pandangan Politiknya tentang pentingnya Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia. Dan , beliau sangat paham sekali tentang bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai perjuagan para pendiri Bangsa.
Saya dalam Pemilu mendatang, akan mencoba mengaplikasikan konsep beliau tentang bagaimana menjual ide-ide partai yang bernafaskan " PELOPOR FOR CHANGE "
Semoga niatan ini memperoleh respon yang positif dari Masyarakat Kaltim di Pemilu mendatang.
Merdeka
By Sanjaya ,
Langganan:
Postingan (Atom)

