“ Pelopor for Change “
Pertanian sebagai Pondasi Kebesaran Bangsa Indonesia
Indonesia dikaruniai oleh Sang Khaliq digaris Khatulistiwa ini dengan dua ( 2 ) musim, yaitu Panas ( Kemarau ) dan Basah ( Hujan ); sungai dan pegunungan sebagai kekayaan alam yang seharusnya dijaga dan dikelola dengan asas keseimbangan. Kalau didalam Al Qur’an mungkin bisa diibaratkan sebagai Surga Dunia karena begitu beragam kekayaan alam yang tersedia atau dihidangkan oleh Allah Swt di bumi ini.
Mari kita lihat dalam kondisi saat ini apakah kita sudah mengelola dan menjaga kekayaan ini dengan baik. Saat Kalimantan Timur diberi karunia oleh Allah berupa hujan, bagian Indonesia lainnya dilanda kekeringan. Hati ini ingin menangis karena melihat saudara-saudara kita terkena Padi gagal panen karena hujan belum turun, saudara-saudara kita mencari air bersih ke arah pegunungan hanya untuk mencari seember air bersih untuk kebutuhan hidupnya.
Pada saat hujan melanda, yang seharusnya menjadi karunia bagi kita malah menjadi prahara karena sawah-sawah jadi gagal panen karena banjir melanda dimana-mana, kota-kota terendam oleh air dan saudara-saudara kita terpaksa mengungsi ke daerah lain meninggalkan rumah mereka masing-masing.
Betapa sebenarnya air yang ada yang seharusnya merupakan karunia, tidak pernah kita syukuri sebagai karunia karena pada saat datang hujan malah menjadikan musibah. Hal inilah yang ingin saya katakan bahwa kita telah salah membuat konsep pembangunan prioritas di negeri ini. Sseandainya kita membagun pondasi pembangunan bangsa ini di sector Agraris / Pertanian maka kita semua pasti terpacu memanfaatkan air sebagai karunia Allah yang begitu besar, sehingga air akan dikelola untuk dimanfaatkan sepanjang tahun untuk sector agraris. Mengapa…?
Karena sector agraris akan mencipatakan kita akan membangun waduk-waduk dengan debit sesuai keinginan kita untuk membangun pertanian di bumi ini sebagai sumber devisa kita dan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Kita akan menjaga kelestarian sumber-sumber air dengan menjaga ekosistem hutan yang ada untuk mengairi sawah – sawah dan ladang kita, kita akan menjaga sungai-sungai kita menjadi tidak dangkal karena sedimentasi yang terjadi karena system pemukiman kita di sepanjang sungai dan kali dibiarkan, hutan-hutan ditebang tanpa memperhatikan aturan main yang ada karena sector pertanian masih belum dilihat sebagai kekayaan bangsa ini.
Untuk membangun sector Pertanian sebagai pondasi bangsa ini, tentunya akan dibutuhkan sumberdaya manusia yang memadai baik dari tingkat Diploma, Sarjana maupun Doctoral. Coba kita simak, pola pikir masyarakat kita. Kita akan selalu akan beranggapan bahwa kalau anak kita masuk Fakultas Pertanian tidak membanggakan dan sebagai hal yang memalukan karena anak kita akan dianggap sebagai pengangguran nantinya setelah lulus dari Perguruan Tinggi. Jurusan Kedokteran, Arsitek dan lainnya dianggap lebih punya gengsi untuk anak-anak kita. Lalu kapan kita akan maju untuk membangun sector Pertanian kalau kita sendiri mempunyai anggapan seperti ini. Kita sendiri sudah malu untuk menjadi PETANI, maka otomatis konsep pembangunan kita akan dipengaruhi oleh paradigma ini.
Kita semua ingat pada tahun 70-an, di sekolah dasar kita diberi pelajaran bahwa orang Madura makanan pokoknya adalah jagung, orang Ambon dan Irian makanan pokoknya sagu , lalu saat ini masih jadi makanan pokok suku ini….? TIDAK.
Semuanya hilang, kita semuanya makan beras sebagai makanan pokok kita. Belum lagi, pada tahun 80-an, setiap kita melewati daerah Tangerang dan Bekasi kita akan disuguhi sawah- sawah dengan padi yang menguning di semua daerah tersebut. Saat ini daerah tersebut telah menjadi sawah-sawah pabrik dan pemukiman. Mengapa…?
Apel dari daerah Malang, saat ini sudah kalah bersaing dengan Apel-apel Impor, mengapa…? Belum lagi kebun-kebun apel di daerah ini sudah berubah menjadi kebun-kebun pemukiman penduduk dan Villa-villa.
Untuk itu, tanpa menjadikan Pertanian sebagai Pondasi Pembangunan Bangsa, bersiaplah kita akan menjadi bangsa yang tidak memiliki apapun untuk membangun negeri ini menjadi besar, beradap dan dihormati.
Mari kita sama-sama bertanya kepada hati kita, sudah bernarkah paradigma para pemimpin bangsa ini untuk membangun Indonesia menjadi negara besar….?
Marilah kita bersatu untuk memajukan sector Pertanian sebagai pondasi pembangunan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dengan mensyukuri karunia sang Khaliq yaitu Allah Swt, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Mari kita pilih pemimpin-pemimpin kita dan calon-calon anggota dewan yang paham betul akan potensi bangsa ini di sector Pertanian, dan jangan pilih pemimpin-pemimpin dan anggota dewan yang hanya mengelabui kita dengan jenggot manis tetapi kelakuannya tidak mencirikan yang sebenarnya selain korupsi dan mengawini artis-artis Indonesia.
“ Pelopor for Change “ itulah yang harus menjadi pandangan kita semua untuk membangun negeri ini bukan hanya untuk saat ini tetapi untuk anak-cucu kita agar mereka kelak mengenal kita sebagai manusia yang mensyukuri nikmat Allah atas segala kekayaan alam yang telah diberikan kepada kita semua.
By : Sandjaja ( Wakil Ketua DPD Partai Pelopor Kaltim )
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar