Selasa, 09 Desember 2008

Sholat Idul Adha yang Menggemaskan

Dua Penyelenggara Shalat Ied pada Tempat dan Waktu Yang Sama, Mengapa ?

Hari ini, tanggal 08 Desember 2008 atau 10 Dzulhijjah 1429 H semua masyarakat muslim berbondong-bondong melakukan Shalat Idul Adha. Baik di Masjid maupun di lapangan. Begitu juga di kota Samarinda. Pagi yang cerah itu kami melakukan Shalat Ied di GOR Segiri bersama-sama masyarakat Samarinda yang lain.

Kejadian yang mengejutkan terjadi saat jemaah akan melakukan Shalat, ternyata jemaah baru tahu bahwa ada dua kegiatan shalat yang dilakukan oleh pihak berbeda pada tempat yang sama tersebut. Jemaah ada yang berteriak “ Allahu Akbar “ melihat keadaan tersebut.

Alhamdulillah, pada saat akan melakukan shalat salah satu penyelenggara kegiatan tersebut mempersilahkan jemaah untuk mengikuti shalat yang diimami oleh penyelenggara yang lain. Tetapi, saat selesai shalat penyelenggara yang mengalah tersebut ternyata bergantian mendahului melaksanakan kegiatan ceramahnya. Melihat hal yang tidak menarik tersebut maka sebagian besar jemaah berdiri dan meninggalkan tempat tersebut sambil berucap “ Astaghfirullah “.

Banyak jemaah menyesalkan kejadian tersebut, bagaimana bisa dalam satu tempat ada dua penyelenggara yang mengadakan kegiatan shalat Idul Adha bersamaan waktunya. Mau dibawa kemana para jemaah ini…?

Didalam Al Qur’an disampaikan , “ Maka Dirikanlah Shalat karena Rabb-mu dan Berkurbanlah.” ( Al Kautsar : 2 ).

Makna berkuban secara harfiah di hari ini adalah menyembelih hewan seperti : Unta, Sapi maupun Domba. Yang tentunya untuk dibagikan kepada para fakir miskin sebagai bagian dari ibadah kita kepada Sang Khaliq.

Dalam makna yang lain dalam kehidupan sehari-hari , seharusnya kita senantiasa berkurban atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Nikmat sebagai pemimpin, nikmat sebagai orang berilmu, nikmat sebagai orang berkecukupan, nikmat sebagai anggota dewan, nikmat sebagai guru, nikmat sebagai Kepala Daerah, nikmat sebagai Menteri, nikmat sebagai Presiden dan nikmat-nikmat yang lain.

Apabila acuan hidup kita sebagaimana yang tersirat pada ayat Al Qur’an di atas, tentunya tidak banyak kebodohan yang ada di bumi ini, tidak makin besar jurang antara yang kaya dan yang miskin, tidak banyak kemelaratan dan tidak banyak daerah yang tertinggal.

Jiwa / Moral berkurban tak bernilai tinggi bila kita hanya melakukan Kurban pada saat Iedhul Adha saja, maka dari itu marilah kita bersama-sama kesampingkan kepentingan golongan / kelompok kalau memang kita ingin melaksanakan “ Kurban “ yang hakiki yaitu karena ALLAH semata. Dan jangan ada lagi kejadian seperti tersebut di

Rabu, 22 Oktober 2008

KPUD Kaltim Larang Quick Count ditayangkan

“ KPUD Kaltim Larang Penyampaian Hasil Quick Count “


Penyampaian Quick Count untuk hasil pilkada Gubernur Kalimantan Timur akan dipidanakan bila dilakukan pada hari H – nya ( 23 Oktober 2008 ), demikian disampaikan oleh KPUD Kaltim hari selasa kemarin. Dasar pertimbangan mereka adalah aturan di Undang-undang Nomor 10 / 2008. Adapun isi informasi sebagaimana yang tercantum di media massa adalah sebagai berikut :

“ Rencana penayangan hasil penghitungan cepat ( quick count ) Pilgub Kaltim putaran II oleh Lembaga Survei kamis ini ( 23 Okt 2008 ) jika direalisasikan bakal menjadi masalah serius. Karena penayangan ini mengabaikan larangan KPUD Kaltim sebagai penyelenggara pilgub.

KPU tetap berpedoman pada UU No. 10/2008 tentang pemilu yang memuat ketentuan mengenai partisipasi masyarakat terhadap penghitungan suara. Ketua Divisi Sosialisasi/Informasi danData Pemilih KPUD Elvyani NH Gaffar kembali menegaskan, ketentuan tersebut intinya tetap membolehkan masyarakat atau lembaga survey melakukan penghitungan suara.

Tetapi , hasil penghitungan yang dilakukan tidak boleh ditayangkan pada hari pemungutan suara ( pencoblosan ). Penayangan baru boleh dilakukan paling cepat sehari setelah pencoblosan. Tapi kalau hanya sebatas mengumpulkan data pada hari H, silahkan.
Pihak-pihak yang melakukan penhitungan suara juga harus memberitahu KPUD dan menjelaskan kepada public metode penghitungan yang dilakukan. Hal tersebut seperti dijelaskan pada pasal 244, pasal 245 dan246 UU No. 10/2008. Disana disebutkan juga bahwa pelanggaran ketentuan itu merupakan pidana pemilu.

Selanjutnya pasal 307 menyebutkan setiap orang atau lembaga yang melakukan penghitungan cepat yang mengumumkan hasil penghitungan cepat yang mengumumkan hasil penghitungan cepat pada hari / tanggal pemungutan suara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 18 bulan. Serta denda paling sedikit 6 juta rupiah dan paling banyak 18 juta rupiah.

Secara terpisah, anggota panwas pilgub Kaltim Jufri Musa menegaskan,pihaknya juga berkomitmen melaksanakan fungsinya sebagai pengawas. Ketentuan penghitungan suara memang layak jadi perhatian, sebab hal itu berpotensi meresahkan masyarakat. Apalagi bagi lembaga survey yang tidak independent, hasil penghitungan suara dikhawatirkan berbeda-beda, sehingga membingungkan masyarakat.”

Entah apa maksud dibalik semua itu sehingga muncul pernyataan seperti tersebut di atas, padahal masyarakat pemilih sudah tidak sebodoh yang ditakutkan. Masyarakat sudah tahu mana informasi yang benar dan mana yang sifatnya masih sementara, dan hasil pilkada I yang lalu walaupun dari masing-masing kubu menyatakan sebagai pemenangnya tetapi masyarakat tahu bahwa data yang valid adalah data yang dari KPUD.

Bagi saya, ini adalah proses kemunduran untuk transparansi hasil pemungutan suara.

Tak ada yang meresahkan bila hasil ini diumumkan bagi masyarakat secara Quick Count
Sebab pada periode I yang lalu tidak ada masyarakat yang resah. Yang resah hanyalah team sukses dari masing-masing kandidat karena ketahuan langsung hasil kerja teamnya oleh kedua pasangan yang bersaing pada saat ini. Sosok Amins – Hadi serta Awang – Faridz adalah sosok yang santun dan bijak dalam menghadapi setiap permasalahan dan tidak pernah emosional dalam menghadapi suatu kenyataan, itu yang saya lihat dalam kesehariaannya di bumu Kaltim selama ini.

Hari ini, Kamis tanggal 23 Oktober 2008, masyarakat Kalimantan Timur sudah menetapkan pilihannya, siapapun yang terpilih atau dipilih oleh masyarakat Kalimantan Timur marilah kita hadapi dengan semangat Demokrasi untuk kemajuan bumi Kalimantan yang Indah dan Kaya akan Anugerah Allah Swt ini.

Selamat buat pemenangnya, semoga bapak memang amanah untuk memajukan Kalimantan Timur.

Sabtu, 11 Oktober 2008

Amins Gubernur Kaltim mendatang..?

Amins Terima “ Full Support “



Dalam menghadapi putaran kedua Pilkada Gubernur Kaltim, dan menjelang hari pemilihan tanggal 23 Oktober 2008 ini, Amins selaku competitor Awang telah memperoleh dukungan dari Partai Terbesar di Kalimantan Timur yaitu Partai Golkar. Gerakan dukungan ini mungkin merupakan kerja keras dari Team AHAD yang lebih enjoy menghadapi putaran kedua ini dibandingkan team Pelangi yang sibuk mengurusi gugatan hukum terhadap KPUD Kaltim perihal hasil perhitungan pilkada yang pertama .

Apabila melihat hasil Pemilu 2004 yang lalu dan hasil anggota Dewan Tingkat Propinsi, maka hasil yang diperoleh Amins tentunya akan jauh di atas Awang yaitu sekitar 66 %, dan bila perolehan suaranya sebesar ini maka Amin dan Hadi akan menjadi Pimpinan Kalimantan Timur di periode ini.

Kerja keras team memang menjadi tolok ukur keberhasilan Pilkada Kaltim pada saat ini, mengapa…? Kita semua tahu bahwa pada putaran pertama yang lalu pemenangnya adalah Golput. Dan karena melihat hasil ini, saya menilai bahwa team AHAD benar-benar telah melakukan evaluasi mendasar atas hasil putaran pertama yaitu dengan melakukan pendekatan terhadap partai-partai besar yang sebelumnya mendukung pasangan yang gagal melaju ke putaran kedua. Kemudian team AHAD lebih santun mendekati masyarakat dengan tanpa melakukan promo besar-besaran sebagaimana pada putaran pertama dan tanpa melakukan proses gugatan hukum terhadap hasil putaran pertama. Team AHAD melakukan promo melakukan media nasional sehingga gaung mereka akan masuk ke pelosok-pelosok desa yang hanya bisa ditempuh melalui jalur sungai ataupun jalan setapak, juga gaungnya akan masuk ke belantara hutan di Kaltim dimana perusahaan HPH-HPH berada serta perusahaan – perusahaan tambang batu bara.


Tetapi, langkah yang paling baik dilakukan oleh team AHAD dengan melakukan promo door to door dan promo nasional ini adalah mencoba menjaring suara dari pemilih Golput pada putaran pertama yang lalu. Promo ini boleh saya katakan promo “ Silent is Golden “

Hal yang mendasar menjadi kerja keras berikutnya dari Amins setelah terpilih kelak adalah bagaimana beliau membuat perbatasan Kaltim dengan Malaysia lebih terbuka sehingga menjadi terjaga dari akses pengusaha-pengusaha Malaysia untuk mencuri hasil hutan Kaltim, dan juga terbukanya akses Indonesia ke Malaysia dengan mengekspor secara murah hasil-hasil masyarakat Kaltim ke negara Jiran ini. Menjadikan Kalimantan Timur sebagai propinsi dengan penyerapan tenaga kerja sebagaimana pada tahun 90-an yang lalu. Menjadikan Balikpapan dan Tarakan sebagai bandara Internasional lebih dari kondisi sekarang, khususnya Tarakan yang sangat berdekatan dengan Philipina, Malaysia dan Brunei sangat memerlukan pemikiran khusus untuk menjadi pintu gerbang hubungan negara Jiran ini dengan kekayaan Kalimantan Timur.

Pemilihan memang belum berlangsung tetapi dengan adanya dukungan penuh dari Partai Golkar dan promo secara diam-diam dari team ini sangat besar sekali peluang Amins untuk memenangkan pertarungan pada putaran kedua mendatang.

Hayo pak Amins…..jangan sampai Golput menang lagi pada putaran kedua ini.

Sabtu, 06 September 2008

22. Partai Pelopor- Informasi dan Referensi Pemilu di Indonesia -

22. Partai Pelopor- Informasi dan Referensi Pemilu di Indonesia -

INILAH.COM - Rizal: Iklan, I Don't Really Care

INILAH.COM - Rizal: Iklan, <i>I Don't Really Care</i>

INILAH.COM - Rizal Mengaku Dipinang Partai Pelopor

INILAH.COM - Rizal Mengaku Dipinang Partai Pelopor

Partai Pelopor memakai suara terbanyak

Partai Pelopor Mengakomodir Caleg Terpilih dari Suara Terbanyak


Pada rapat kerja penentuan Caleg untuk tingkat DPRD Tingkat Propinsi, Syaharie Jaang selaku Ketua DPD Partai Pelopor Kalimantan Timur telah menyampaikan bahwa dalam menghadapi Pemilu mendatang akan menggunakan Caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak. Keputusan ini disampaikan setelah mendengarkan aspirasi dari para Wakil Ketua DPD maupun anggota organisasi lainnya di tingkat Pimpinan Daerah Propinsi.

Keputusan ini, memang akan menyebabkan beberapa konsekwensi dalam penerapannya, sebagai contoh apabila suara terbanyak diperoleh dari Caleg nomor terakhir ( buncit ), maka apabila ada terjadi sesuatu hal yang menyebabkan caleg tersebut harus di PAW, maka calon penggantinya akan diambil dari urutan yang mana…?

Hal positif yang muncul adalah para caleg dari Partai Pelopor tidak akan tarik ulur dalam penentuan nomer urut. Dan hal ini merupakan legitimasi bahwa caleg tersebut memang dikenal oleh masyarakat dalam kiprahnya di kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, pembelajaran politik Indonesia melalui hal seperti ini menjadi menarik karena politik uang dalam penentuan daftar Caleg bisa diminimize. Dan Ketua Partai terpilih akan merupakan kandidat yang memang dikenal oleh masyarakat luas, dan akhirnya sepak terjang partai tersebut akan dicerminkan melalui kualitas pengkaderan yang tidak berdasarkan senioritas, kekayaan dan politikus karbitan yang hanya ingin meraih kekuasaan semata.

Lalu. Aturan mainnya bagaimana…?

Masyarkat pemilih di Indonesia, sampai saat ini masih hanya kenal nama partai dibandingkan dengan individu-individunya. Oleh sebab itu, suara terbanyak dari caleg terpilih di urutan terbawah, suara yang masuk untuknya akan dijadikan dasar perolehan kursi dari mulai urutan teratas. Inilah yang menyebabkan pembelajaran politik berdasarkan legitimasi terhadap individu akan menjadi tidak jelas, karena suara yang diperoleh dari caleg terbawah akan dikumulatifkan terhadap suara partai terlebih dahulu.

Sehubungan dengan ini, MK telah memutuskan bahwa pola yang akan diterapkan oleh partai Pelopor ini adalah hal yang diperkenankan secara hukum. Tetapi benarkah aplikasinya pada Pemilu mendatang ini…?

Pertanian Indonesia

“ Pelopor for Change “
Pertanian sebagai Pondasi Kebesaran Bangsa Indonesia



Indonesia dikaruniai oleh Sang Khaliq digaris Khatulistiwa ini dengan dua ( 2 ) musim, yaitu Panas ( Kemarau ) dan Basah ( Hujan ); sungai dan pegunungan sebagai kekayaan alam yang seharusnya dijaga dan dikelola dengan asas keseimbangan. Kalau didalam Al Qur’an mungkin bisa diibaratkan sebagai Surga Dunia karena begitu beragam kekayaan alam yang tersedia atau dihidangkan oleh Allah Swt di bumi ini.

Mari kita lihat dalam kondisi saat ini apakah kita sudah mengelola dan menjaga kekayaan ini dengan baik. Saat Kalimantan Timur diberi karunia oleh Allah berupa hujan, bagian Indonesia lainnya dilanda kekeringan. Hati ini ingin menangis karena melihat saudara-saudara kita terkena Padi gagal panen karena hujan belum turun, saudara-saudara kita mencari air bersih ke arah pegunungan hanya untuk mencari seember air bersih untuk kebutuhan hidupnya.

Pada saat hujan melanda, yang seharusnya menjadi karunia bagi kita malah menjadi prahara karena sawah-sawah jadi gagal panen karena banjir melanda dimana-mana, kota-kota terendam oleh air dan saudara-saudara kita terpaksa mengungsi ke daerah lain meninggalkan rumah mereka masing-masing.

Betapa sebenarnya air yang ada yang seharusnya merupakan karunia, tidak pernah kita syukuri sebagai karunia karena pada saat datang hujan malah menjadikan musibah. Hal inilah yang ingin saya katakan bahwa kita telah salah membuat konsep pembangunan prioritas di negeri ini. Sseandainya kita membagun pondasi pembangunan bangsa ini di sector Agraris / Pertanian maka kita semua pasti terpacu memanfaatkan air sebagai karunia Allah yang begitu besar, sehingga air akan dikelola untuk dimanfaatkan sepanjang tahun untuk sector agraris. Mengapa…?
Karena sector agraris akan mencipatakan kita akan membangun waduk-waduk dengan debit sesuai keinginan kita untuk membangun pertanian di bumi ini sebagai sumber devisa kita dan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Kita akan menjaga kelestarian sumber-sumber air dengan menjaga ekosistem hutan yang ada untuk mengairi sawah – sawah dan ladang kita, kita akan menjaga sungai-sungai kita menjadi tidak dangkal karena sedimentasi yang terjadi karena system pemukiman kita di sepanjang sungai dan kali dibiarkan, hutan-hutan ditebang tanpa memperhatikan aturan main yang ada karena sector pertanian masih belum dilihat sebagai kekayaan bangsa ini.

Untuk membangun sector Pertanian sebagai pondasi bangsa ini, tentunya akan dibutuhkan sumberdaya manusia yang memadai baik dari tingkat Diploma, Sarjana maupun Doctoral. Coba kita simak, pola pikir masyarakat kita. Kita akan selalu akan beranggapan bahwa kalau anak kita masuk Fakultas Pertanian tidak membanggakan dan sebagai hal yang memalukan karena anak kita akan dianggap sebagai pengangguran nantinya setelah lulus dari Perguruan Tinggi. Jurusan Kedokteran, Arsitek dan lainnya dianggap lebih punya gengsi untuk anak-anak kita. Lalu kapan kita akan maju untuk membangun sector Pertanian kalau kita sendiri mempunyai anggapan seperti ini. Kita sendiri sudah malu untuk menjadi PETANI, maka otomatis konsep pembangunan kita akan dipengaruhi oleh paradigma ini.

Kita semua ingat pada tahun 70-an, di sekolah dasar kita diberi pelajaran bahwa orang Madura makanan pokoknya adalah jagung, orang Ambon dan Irian makanan pokoknya sagu , lalu saat ini masih jadi makanan pokok suku ini….? TIDAK.
Semuanya hilang, kita semuanya makan beras sebagai makanan pokok kita. Belum lagi, pada tahun 80-an, setiap kita melewati daerah Tangerang dan Bekasi kita akan disuguhi sawah- sawah dengan padi yang menguning di semua daerah tersebut. Saat ini daerah tersebut telah menjadi sawah-sawah pabrik dan pemukiman. Mengapa…?

Apel dari daerah Malang, saat ini sudah kalah bersaing dengan Apel-apel Impor, mengapa…? Belum lagi kebun-kebun apel di daerah ini sudah berubah menjadi kebun-kebun pemukiman penduduk dan Villa-villa.

Untuk itu, tanpa menjadikan Pertanian sebagai Pondasi Pembangunan Bangsa, bersiaplah kita akan menjadi bangsa yang tidak memiliki apapun untuk membangun negeri ini menjadi besar, beradap dan dihormati.

Mari kita sama-sama bertanya kepada hati kita, sudah bernarkah paradigma para pemimpin bangsa ini untuk membangun Indonesia menjadi negara besar….?
Marilah kita bersatu untuk memajukan sector Pertanian sebagai pondasi pembangunan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dengan mensyukuri karunia sang Khaliq yaitu Allah Swt, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Mari kita pilih pemimpin-pemimpin kita dan calon-calon anggota dewan yang paham betul akan potensi bangsa ini di sector Pertanian, dan jangan pilih pemimpin-pemimpin dan anggota dewan yang hanya mengelabui kita dengan jenggot manis tetapi kelakuannya tidak mencirikan yang sebenarnya selain korupsi dan mengawini artis-artis Indonesia.

“ Pelopor for Change “ itulah yang harus menjadi pandangan kita semua untuk membangun negeri ini bukan hanya untuk saat ini tetapi untuk anak-cucu kita agar mereka kelak mengenal kita sebagai manusia yang mensyukuri nikmat Allah atas segala kekayaan alam yang telah diberikan kepada kita semua.


By : Sandjaja ( Wakil Ketua DPD Partai Pelopor Kaltim )

Rabu, 03 September 2008

Partai Pelopor ingin menjadi " Pelopor for Change "

Dalam Rakerda bulan lalu, Syaharie Jaang telah menyampaikan kepada para peserta Rakerda bahwa sebagai partai Gurem, Pelopor harus tahu diri bahwa untuk meraih perolehan kursi di legislatif, pada saat ini sebaiknya para caleg melakukan karya nyata di lapangan. Janji-janji manis sudah tak diminati lagi sebagai materi kampanye.

Bukti nyata pada pilkada Kaltim, masyarakat Kaltim lebih banyak menjadi Golput, sehingga bila Golput ini diikutkan sebagai keputusan politik, maka pemenanngnya adalah Golput.

Oleh sebab itu, Pelopor tidak harus mencalonkan banyak kadernya di pemilu legislatif mendatang hanya sekedar untuk memenuhi kuota. Pelopor harus berkiprah nyata, oleh sebab itu, caleg-caleg dari Pelopor harus berkarya nyata untuk membangun daerahnya masing-masing.

Kader Pelopor tidak boleh melakukan politik uang atau sejenisnya, tetapi bagaimana mencari amanah dari rakyat. Biarlah partai lain melakukan tindakan yang bukan fair play dan membodohi rakyat. Kita harus maju dengan satu tujuan yaitu " Membangun Kaltim yang Bersih dan bermanfaat buat masyarakat Kaltim pada Khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Saya sebagai salah satu Wakil Ketua di DPD Partai Pelopor sangat menyetujui opini pak ketua ini. Saya sangat berharap sekali pak Syaharie bisa maju pada Pilkada mendatang untuk membuat Samarinda jadi lebih maju dari saat ini. Beliau adalah tokoh pemuda yang tidak disangsikan lagi pandangan Politiknya tentang pentingnya Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia. Dan , beliau sangat paham sekali tentang bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai perjuagan para pendiri Bangsa.

Saya dalam Pemilu mendatang, akan mencoba mengaplikasikan konsep beliau tentang bagaimana menjual ide-ide partai yang bernafaskan " PELOPOR FOR CHANGE "
Semoga niatan ini memperoleh respon yang positif dari Masyarakat Kaltim di Pemilu mendatang.

Merdeka

By Sanjaya ,

Media Indonesia - News & Views -

Media Indonesia - News & Views -

Media Indonesia - News & Views -

Media Indonesia - News & Views -

::: KALTIM POST Cyber News :::

::: KALTIM POST Cyber News :::

::: KALTIM POST Cyber News :::

::: KALTIM POST Cyber News :::

detikNews : situs warta era digital | Asyik 467 Kabupaten Akan Dapat Mobil dari PKS

detikNews : situs warta era digital | Asyik 467 Kabupaten Akan Dapat Mobil dari PKS

detikNews : situs warta era digital | SBY Dukung MPR Bentuk Komisi Pengkaji UUD 1945

detikNews : situs warta era digital | SBY Dukung MPR Bentuk Komisi Pengkaji UUD 1945

detik Finance: Barometer Bisnis Anda | RI Butuh 2,5 Juta Lapangan Kerja Baru Tiap Tahun

detik Finance: Barometer Bisnis Anda | RI Butuh 2,5 Juta Lapangan Kerja Baru Tiap Tahun

detik Finance: Barometer Bisnis Anda | BPK Temukan Kelebihan Hitungan Subsidi BBM Rp 7,633 Triliun

detik Finance: Barometer Bisnis Anda | BPK Temukan Kelebihan Hitungan Subsidi BBM Rp 7,633 Triliun

Sabtu, 23 Agustus 2008

असा pelopor


Saat ini bangsa ini sudah terkikis jiwa pejuangnya.
Apakah kita tidak pernah memahami bahwa kemerdekaan ini kita peroleh dengan perjuangan dan doa.

Bangsa kita telah menjual tanah dan isi yang dikandungnya kepada bangsa lain, dan sebagian besar dari kita hanya bisa menonton saja semuanya diangkut ke luar dari negeri ini.

Kalimantan Timur kaya akan hasil tambang, antara lain : batu bara dan emas.

Kita sebagai masyarakat Kalimantan hanya melihat saja ponton-ponton yang ditarik melalui sungai Mahakam, dan lucunya Listrik di tanah ini masih byar pet.

Asa pelopor untuk semuanya ini sangat diperlukan sebagai katalisator perubahan wawasan kebangsaan yang telah ditanamkan oleh Founding Father negeri ini.

Mari kita maju dengan PELOPOR untuk mewujudkan bangsa ini menjadi bangsa yang beradab dan memajukan kesejahteraan masyarakat Indonesia ( khususnya Indonesia Tengah dan Timur ), serta menjaga PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA.

MERDEKA...............

Rabu, 30 April 2008

Morallitas yang Hilang

Moralitas pengabdian untuk masyarakat (banyak) masih adakah…?
Kalau pada saat jaman penjajahan dahulu, kita selalu mendengar hampir dari setiap penjuru negeri ini ada pahlawan-pahlawan yang diagungkan oleh masyarakatnya karena keberanian mereka untuk mendobrak kekuasaan penjajah demi kemerdekaan masyarakatnya. Kemerdekaan untuk menjadikan masyarakatnya lebih memiliki kebebasan untuk menjadi lebih baik dan bermartabat menjadi manusia seutuhnya yang punya segala keinginan. Cut Nyak Dien dari Aceh, Si Singa Mangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Hasanudin, Pangeran Pattimura dan lain-lainnya. Gambaran yang paling dekat dengan kita mungkin adalah Sukarno ( Presiden I Republik Indonesia ), Sukarno berani untuk ditahan oleh Belanda dan Jepang untuk mewujudkan kemerdekaan negeri ini yang tentunya ingin melihat masyarakat Indonesia menjadi lebih maju dan mempunyai nilai di dunia Internasional. Pemimpin-pemimpin seperti ini masih adakah di negeri kita ini, atau dalam wilayah yang lebih kecil di Kalimantan Timur ini….? Yang berjuang untuk kemajuan daerahnya, daerah yang mandiri tanpa tergantung pada pusat, yang punya gagasan – gagasan spektakuler dan berani mewujudkannya tanpa pamrih.

Mari kita simak fenomena-fenomena yang ada dibawah ini. Penulis hanya mengambil empat hal yang sering menjadi berita penting di negeri ini. Gambaran yang ada dibawah hanyalah ingin mengajak para pembaca, pemerhati masalah moral yang ada di negeri ini untuk menjadi kajian yang lebih detail dan lengkap untuk menyikapinya. Penulis hanyalah seorang pekerja di perusahaan dan salah satu kader partai politik di Indonesia yang kebetulan belum lolos untuk mengikuti Pemilu mendatang.



Dunia Pengusaha dan Pekerja,

Undang-undang no,1 tahun 2003
Pasal masalah pemutusan hubungan kerja, lebih banyak memberikan peluang untuk pengusaha melakukan kegiatan pemerasan tenaga kerja tanpa melakukan perbaikan kondisi kesejahteraan karyawan/pekerja.
Adanya peluang pengusaha untuk melakukan pemakaian tenaga kerja out sourcing ( tenaga kerja borongan ),
Tak adanya pesangon bagi pekerja yang memadai, sehingga hal ini membuat pengusaha melakukan PHK ( Pemutusan Hubungan Kerja ) secara sepihak dan dengan mudah melakukan hal tersebut.
Penyelesaian perselisihan yang berkepanjangan, perlu waktu lama, sehingga pekerja akan dimarjinalkan posisi tawarnya.
Kondisi pasar tenaga kerja yang sempit, memperparah kondisi tersebut. Alasan pengusaha mem-phk pekerja menjadi lebih punya nilai tawar yang tinggi, dan pemerintah tentunya akan lebih banyak sebagai mediator yang tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi nasib pekerja.

Produktifitas pekerja yang rendah disebagian besar pekerja Indonesia, dikarenakan paradigma kita lebih banyak mengarah pada : Sedikit bekerja banyak hasil – pendapatan.
Perasaan memiliki perusahaan menjadi kurang atau bisa dikatakan hampir tidak ada, hal ini bisa dilihat dari banyaknya limbah yang dikeluarkan dari bahan yang diolah, alat-alat kerja yang sering rusak, pemborosan material dan energi. Mereka mungkin tidak berpikir bahwa kelanggengan perusahaan tergantung juga pada moral-moral yang baik dari mereka.


Anggota Dewan

Hampir bisa dikatakan sebagian besar anggota dewan menjadi punya lebih banyak uang atau harta dibandingkan dengan sebelum menjadi anggota dewan.
Anggota dewan lebih banyak mengunjungi masyarakat dan berdialog pada saat menjelang pemilihan anggota dewan saja. Setelah terpilih tidak ada lagi inisiatif untuk dekat dan mendengarkan lagi secara langsung yang terjadi di masyarakat. Mereka mungkin punya anggapan bahwa aspirasinya masyarakat cukup dibaca dari info media massa atau berita dari televisi saja.
Program-program yang dibuat di dewan lebih banyak bagaimana membuat peraturan-peraturan yang sifatnya hanya tertulis tanpa tahu efektifitas pelaksanaannya, pembuatan RAPBD yang hanya monoton tanpa adanya semangat untuk membangun daerah jadi lebih baik dari sisi perekonomian, tata kota atau wilayah yang lebih tertata untuk memajukan masyarakat daerah dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Anggota dewan lebih banyak menyoroti bagaimana meningkatkan income anggota dewan, kesejahteraannya, bisnisnya ( kalau ada ) dan tak ada lagi semangat untuk memperbaiki sarana-prasarana memajukan tingkat pendidikan masyarakat.


Pemilihan Pimpinan Daerah ( Wali Kota, Bupati dan Gubernur )

Cobalah perhatikan kondisi saat ini menjeleang pemilihan Gubernur di Kalimantan Timur, banyak sekali publikasi yang menunjukkan para calon mendatangi daerah-daerah bahkan sampai dengan tingkat RT , RW ataupun kelurahan mereka selalu datang untuk berdialog sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat secara langsung. Masyarakat dihibur dengan hiburan dengan mendatangkan artis-artis ibu kota ataupun kesenian-kesenian daerah, dan dana yang dipakaipun mungkin dana pribadi.

Mari kita saksikan apakah setelah mereka terpilih, mereka akan melakukan hal yang sama; memberikan hiburan gratis , berdialog langsung dengan masyarakat , memberikan bantuan materi sebagaimana pada saat mereka mempromosikan diri. Wallahualam, saya pribadi sangat pesimis hal ini akan terjadi.





Urbanisasi

Setiap tahun sekali kita melihat fenomena dimana daerah-daerah dengan tingkat penghasilan masyarakatnya tinggi ( perkotaan ) akan selalu kedatangan penduduk dari daerah dengan taraf kehidupan atau penghasilan yang lebih rendah, atau dengan tingkat lapangan kerja yang minim. Mereka datang dengan tujuan untuk mencari pekerjaan ataupun berusaha menjadi PKL atau yang lainnya, dengan satu mimpi memperbaiki taraf kehidupannya menjadi lebih baik atau memiliki penghasilan yang memadai untuk menyambung hidup mereka.

Tetapi, mari kita saksikan dimana sudah banyak daerah mulai memperkenalkan peraturan untuk menahan kedatangan mereka. Alasannya adalah untuk menghindari tingkat kriminalitas yang makin buruk di daerahnya, sehingga yang terjadi adalah pandangan bahwa mereka adalah pendatang yang tidak baik atau dengan kata yang lebih halus sebagai pendatang yang tidak diharapkan.


Gambaran-gambaran di atas adalah fenomena-fenomena dan fakta yang terjadi pada masyarakat kita pada saat ini. Secara pribadi saya berani mengatakan bahwa moralitas kita sedang mengarah kepada kebendaan atau materi atau memperkaya diri sendiri . Baikkah hal ini terjadi di bumi kita, khususnya untuk negeri ini……?




Opini Sanjaya,
Salah satu pengurus DPP – PKPI Kalimantan Timur
Gelisahnya Sang Gubernur



“ Saya sudah bersumpah pada diri saya sendiri untuk tidak mau jadi lagi gubernur, cukup sekali saja.” Ujarnya. “ Saya kapok,” tambahnya. Bagaimana kalau masyarakat dan partai-partai mendesaknya untuk mencalonkan kembali ? “ Saya tidak akan mau. Untuk apa jadi gubernur kalau suasananya seperti sekarang ini,” katanya. ( Ucapan Gubernur Sumbar kepada Dahlan Iskan, Kaltim Post 31 Maret 2008 )

Nukilan berita tersebut menghiasi kegelisahan – kegelisahan yang terjadi pada saya, sebagaimana pernyataan yang keluar dari Sri Sultan Hamengkubuwono X tentang dia mau dijadikan menjadi Presiden bila Rakyat menghendakinya.

Saya juga pernah menulis tentang “ Moralitas Yang Hilang “ di negeri Khatulistiwa ini, yang kurang lebihnya tentang lontaran-lontaran renungan yang terjadi di pikiran saya perihal hilangnya Jiwa Pengabdian di Pemimpin-pemimpin negeri. Tentang kerinduan saya terhadap sosok Agus Salim.

Bila membaca tentang dialog antara Dahlan Iskan dan Sang Gubernur, saya yang hanya jadi rakyat biasa saja menjadi skeptis melihat perubahan yang akan terjadi di Indonesia. Saat ini, Indonesia sedang dipimpin oleh SBY dan JK yang merupakan perwujudan langsung dari system Demokrasi yang digadang-gadang akan membawa perubahan pada wajah Indonesia. Ternyata memang berubah pada bidang “ Demo “ – nya saja yang gencar terjadi setiap saat.

Lalu , apa yang harus dilakukan di negeri ini….?

Dalam dialog mereka juga terkesan bahwa kepada perwakilan rakyat melalui partai-partai saja mereka sudah tidak percaya. Padahal anggota dewan yang kita pilih sudah tidak seperti jaman ORBA lagi, yaitu melalui pemilihan terhadap person langsung ( walaupun masih didalam partai ). Orang sekaliber Gubernur saja kapok untuk maju lagi dalam pemilihan gubernur berikutnya, pertanyaannya adalah apa yang terjadi sebenarnya…? Sebegitu parahnya kondisi Anggota Dewan yang ada.? Tidak ada lagikah anggota dewan yang masih bisa kita percaya ( atau memiliki akal sehat : istilah Dahlan Iskan ).

Gambaran dialog yang terjadi antara Dahlan Iskan dengan gubernur antara lain : Gubernur lantas bertanya balik, mengapa saya tidak ingin menjadi gubernur di Jatim. Saya hanya tertawa. “ Kok tertawa?’ tanyanya. “ Jawaban saya sama dengan apa yang baru saja bapak kemukakan,” kata saya. Saya juga berpendapat bahwa kalaupun bisa jadi gubernur, saya tidak akan bisa banyak berbuat. Untuk saya malah masih ada satu alasan tambahan : Saya tidak berpartai dan kelihatannya agak sulit untuk tertarik ke partai dalam keadaan seperti sekarang. ( Kalimat Dahlan Iskan yang disampaikan kepada sang gubernur ).

Ditambahkan lagi oleh Dahlan Iskan sebagaimana berikut :

Kalau ada orang yang mengatakan jadi gubernur untuk mengabdi ke masyarakat harus ditanya benar-benar dimana letak penegakan akal sehatnya. Terutama dalam keadaan seperti sekarang, dimana untuk menjadi calon saja harus membeli kendaraan, bahkan masih juga untuk membeli ticket untuk masuk kendaran yang dibelinya itu. Kadang beli ticketnya harus lewat calo, dan ketika mau masuk kendaraan yang sudah dibelinya ternyata kursinya sudah penuh. Adakah orang yang ingin mengabdi ke masyarakat dan untuk mengabdi itu harus mengeluarkan uang 50 milyard rupah, misalnya ? Dan sebagian uang untuk mengabdi itu harus didapatkanya dari pinjam sana pinjam sini…?

Kalau sudah seperti ini gambaran yang terjadi diajang Pemilihan Kepala Daerah, lalu pertanyaan Dahlan Iskan tentu mudah ditebak jawabannya.

Negara Indonesia kita ini mayoritas penduduknya beragama Islam , lalu ajaran-ajaran Nabi Muhammad tentang kepemimpinan dan lainnya yang bernuansa Islami dimana letaknya….?

Sri Sultan Hamengkubuwono – pun pernah berucap tentang dia mau dipilih asalkan rakyat memang memilihnya. Apa maksud dari hal yang disampaikan ini ? Apakah sama dengan yang ada didalam pikiran Dahlan Iskan maupun sang Gubernur ? Wallahualam.

Sebagai rakyat yang tak tahu tentang dunia mereka, tentunya saya berharap orang-orang seperti merekalah yang perlu untuk memimpin bangsa ini. Tetapi , bagaimana caranya ? Siapa yang bisa mengumpulkan orang-orang ini…? Partai…?


Salah satu opini yang terjadi pada dialog mereka antara lain adalah :
Gamawan hanya mau jadi gubernur kalau ketentuan yang ada banyak dirubah. Misalnya soal otonomi. Dia termasuk yang berpendapat bahwa otonomi itu jangan per kabupaten / kota karena skala ekonominya lebih kecil. Otonomi itu ditingkat propinsi, lalu desa. Tapi dia bukan tidak setuju otonomi di tingkat kabupaten / kota, namun harus ada perubahan bentuk pemerintahan propinsinya. Kalau memang otonomi itu di tingkat kabupaten / kota, maka gubernur tidak perlu dipilih oleh rakyat secara langsung. Gubernur cukup diangkat oleh presiden dengan wewenang terbatas. Sebagai konsekuensinya, propinsi juga tidak perlu punya DPRD Propinsi. Kalau otonominya dipilih salah satu saja, maka pemerintahan akan lebih efisien tanpa kehilangan dasar-dasar demokrasi yang benar.

Lalu bagaimana dengan ajang Pilkada yang terjadi di Kalimantan Timur pada saat ini…? Adakah hal yang disampaikan oleh mereka benar adanya…?

Pada saat sekarang, walaupun belum masuk masa kampanye dari 4 ( empat ) kandidat sudah melemparkan ide-idenya tentang membangun Kaltim..? Benarkah mereka akan mengabdi untuk masyarakat Kalimantan Timur ( Kaltim )….? Hanya waktu yang bisa melihatnya nanti.

Calon-calon gubernur Kaltim yang akan bersaing untuk memperoleh simpati Masyarakat Kalimantan Timur adalah sebagai berikut :

1. Awang Faroek Ishak berpasangan dengan Faridz , dimana salah satunya yaitu Awang Faroek adalah salah seorang calon yang sarat dengan pengalaman di Dewan pada saat jaman Orde Baru. Pernah menjadi Bupati Kutai Timur dan juga saat ini sedang menjabat sebagai Bupati Kutai Timur. Beliau juga adalah salah seorang calon gubernur Pada periode pemilihan gubernur yang lalu, yang masih memakai system pemilihan melalui wakil rakat ( dewan ) dikalahkan oleh Suwarna. Saat ini, beliau sedang membangun Kutai Timur dengan mengunggulkan sector perkebunan.
2. Nusyirwan Ismail dengan Heru Bambang, keduanya adalah calon yang berasal dari lingkungan pemerintahan Propinsi dan Kota Madya. Dari angkatan muda. Entah apa yang diimpikan mereka dalam mencalonkan dirinya.
3. Achmad Amins dan Hadi Mulyadi, dimana salah satunya dari Kader Golkar yang tidak dicalonkan oleh partainya dan yang lain berasal dari PKS. Amins, dikenal sebagai Wali Kota Samarinda dan Hadi sebagai pucuk pimpinan PKS. Kombinasi yang menarik, dari kalangan Pemerintahan dan Partai yang berjargonkan agama.
4. Yusuf SK dan Luther Kombong, dimana Yusuf berasal dari kalangan pemerintahan yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Tarakan yang diunggulkan karena kapasitasnya membangun kota Tarakan jadi lebih maju ( katanya ), sedangkan Luther dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di bidang kehutanan dan perkebunan.

Entah apa yang ada di dalam benak mereka, sehingga mereka mencalonkan diri sebagai Gubernur Kalimantan Timur. Kalau dari sosialisasi yang mereka sampaikan tidak ada yang jelek, semuanya untuk membangun Kaltim lebih baik dari yang ada pada saat ini.

Wallahualam, waktulah yang bisa menjawab nantinya.


By : Sandjaja